Skema Ponzi : Korban mencari Korban

Malam Kamis, sehabis Isya’, Kang Kawul  sudah selesai menata tikar plastik diantara gamelan. Tidak seperti biasanya jika sudah datang langsung thang-thing nuthuki saron,  malam itu dia kelihatan kurang bersemangat,  ngglosor nglekar  didekat bonang  barung.  Kedua lengan tangannya diletakkan di atas dahi dengan mata terpejam. Kedatangan  Kang Parto Tempe  sampai tidak  diketahuinya.

Dia kaget njenggirat  begitu kang Parto menabuh Bonang di atasnya.

” Wah kang Parto jan ngaget-ngageti  tenan kok”  kang Kawul langsung duduk bersila.

“Lha salahnya, datang duluan malah enak-enak tiduran, ha mbok nabuhi kendhang dhang-dhung dhang dhung  biar kanca-kanca segera datang “. jawab kang Parto Tempe.

“Aku sebenarnya lagi sumeng ini kang, tadi maunya  gak berangkat tapi di rumah kok tambah sumpek, hawane mau emosi terus”

“Lha mikir apa lagi to Wul, kemarin-kemarin  jagomu kades  di Desa Kesambi kan menang, lumayan to bebungahe,  disyukuri itu” kang Parto menasehati.

“Njenengan ki sok ngerti kang, bukan itu yang kupikirkan, itu lho aku lagi mangkel sama adikku Maryati dan bojonya itu, dongkol aku kang”  kang Kawul menahan emosi.

“Wo ngerti aku, mesti masalah sawah Lor Panjan yang dijual ceplik itu ya,  sudah diikhlaskan  saja, wong yang beli juga saudaramu sendiri, bukan orang lain.  Apalagi sawah itu kan memang sudah diwariskan  ke Maryati adikmu itu to ” kang Parto menjawab.

Tak lama kemudian datang Paklik Jiyo, Pak Jono, Pak Kadus, Kang Cancut dan beberapa anggota  penggemar karawitan secara bersama-sama.

” Coba sekarang  tanya pak Jono,  kan gak apa-apa menjual sawah  ya pak Jono ?”, tanya kang Parto.

“Saya  itu bukan mempermasalahkan  penjualan sawah itu kang Parto,  cuma penggunaan uangnya itu yang sangat ngawur, tidak pakai nalar, dan akhirnya  muspro, hilang tanpa bekas. Apa gak ikut stress saya ” potong kang Kawul sembari menepuk jidatnya. “Plok “

” Lho hilang gemana to Wul, kan belum lama jualnya, baru setengah tahunan yang lalu kan ?” pak Jono menyambung.

“Ya itu gara-gara Yu Darmi yang ngojok-ojoki, katanya cari uang gampang, tinggal tidur di rumah nanti datang sendiri,  gak usah kerja tinggal tunggu hasilnya saja, gombale mukiyo tenan“. kang Kawul muntab-muntab.

“Yu Darmi  ya padha wae  kehilangan kok Wul, malah kalau dihitung dia paling banyak rugi dari pada yang lain, pokoke entek-entekan.” Pak Kadus menyambung.

“Wo itu to, sing jarene setor uang sekian puluh juta, nanti tiap bulan dapat bagian sekian juta, berpuluh lipat dari bunga bank, berarti wis njebluk ya Wul” kata pak Jono sambil mesam-mesem.

“Dari dulu aku sudah gak setuju sama trekahe Maryati dan bojonya pak, yang pengen enak-enak dapat duit tanpa kerja, apalagi sampai direwangi jual tinggalane orangtua,  sekarang biar untuk pengajaran, tapi bagaimanapun juga dia itu adikku, mau apalagi bisane mung ikut ngenes” kang Kawul memelas.

“Genah memang sipate manusia itu maunya enak-kepenak, sehingga begitu ada hal yang dirasa seperti itu, ya sudah hilang akalnya, nalarnya bumpet gak bisa mikir lagi” Pak Kadus menyambung.

“Ya itu yang dinamakan bisnis  piramida,  moneygame atau skema ponzi istilahnya, adalah bisnis fiktif, ngapusi, sama dengan perjudian itu Wul” Pak Jono menambahi.

“Istilah apa lagi itu pak, aku ora mudheng” Kang Kawul bertanya.

“Intinya perputaran uang itu hanya berlangsung diantara uang investornya, jadi keuntungan yang didapat investor satu itu ya dari uangnya investor 2, keuntungan investor 2 dari uang investor 3 dan seterusnya, jadi tidak ada keuntungan riil, nyata. ” Pak Jono menjelaskan.

“Lha kalau tidak ada lagi investor baru gemana investor yang terakhir ikut pak ? Kang Parto  ikut bertanya.

“Ya itu saatnya penipuan itu terbongkar, bangkrut, dan pengurusnya berdalih seribu alasan untuk menutupinya sebelum dia kabur” lanjut Pak Jono.

“Ha mbok jadi orang itu yang  wajar-wajar aja to Wul, mau jadi orang kaya ya kerja keras usaha yang bener” Lik Jiyo ikut nyambungi.

About siswanta

Seorang Guru SMK, berpendapat bahwa pendidikan adalah sebaik-baiknya investasi untuk masa depan sebuah bangsa

Posted on January 17, 2012, in KOLOM. Bookmark the permalink. Leave a comment.

SIlahkan tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: