Siswi Hamil Boleh Ikut UN? Miris!

Berita hari ini yang membuat saya sebagai pendidik sangat miris tentang pendidikan di Indonesia, salah satunya adalah :  “Siswi hamil, boleh ikut Ujian Nasional”.  Siswi yang mana ?  Kok bisa ? . Jika itu  berlaku untuk pendidikan formal, bagi saya itu tidak masuk akal, tidak ada alasan logis untuk memberi kesempatan siswi hamil pada pendidikan formal untuk melanjutkan sekolah, dan artinya tidak mungkin untuk ikut UN.

Namun jika  itu terjadi  pada siswi pendidikan non Formal, paket B, Paket C,  sangat wajar dan masuk akal, mengingat  karakterisitk peserta didik pendidikan non formal jauh  berbeda dengan pendidikan formal.

Kepada Yth. Bapak Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo Agoes Budi Tjahyono, mohon diperjelas  pernyataan bapak mengenai tidak ada larangan bagi siswi untuk tidak boleh mengikuti ujian dengan kondisi hamil, siswi yang mana ?. Untuk sekolah formal atau sekolah non formal,  SMA, SMK, paket B, paket C ?. Sehingga tidak menimbulkan polemik di masyarakat.

Sekolah formal jelas mempunyai tata tertib yang lebih ketat, pelanggaran berat tata tertib jelas akan mengakibatkan siswa ” dikembalikan kepada orangtua” atau bahasa lugasnya ” dikeluarkan dari sekolah”.

Pelanggaran berat memang tergantung kepada sekolah masing-masing, tetapi untuk hal- hal seperti : berjudi di sekolah, minum minuman keras di lingkungan sekolah, tawuran, menikah, hamil, berbuat asusila adalah pelanggaran yang kebanyakan dikatagorikan pada pelanggaran berat, konsekwensinya : dikembalikan kepada orangtua.

Saya mengambil contoh tata tertib SMK Negeri I Sidoarjo, pada pasal 6 tentang kesusilaan, menyebutkan siswa dilarang :

  1. Berpacaran selama berpakaian seragam sekolah.
  2. Melaksanakan pernikahan atau hamil selama menjadi siswa.
  3. Melakukan tindakan asusila.

Dan saya yakin hampir semua sekolah formal mempunyai kemiripan tata tertib tentang hal ini.

Pernyataan anggota BSNP (Badan Standar Nasional Pendidian), Bapak Djemari Mardapi , mengenai siswi hamil ini, mungkin juga perlu diperjelas lagi. Kebetulan pak Djemari ini adalah mantan dosen saya dulu di Jogja. Saya tahu betul sifat beliau ini, lugas, apa adanya, kalau mengajar langsung pada sasarannya.

Kesimpulan saya, siswi hamil boleh ikut UN adalah siswi Paket B, Paket C ( pendidikan non formal).

Siswi hamil pada pendidikan formal, berarti dikembalikan kepada orangtua, sehingga tidak bisa ikut UN.

Mohon maaf jika pendapat saya salah.

http://edukasi.kompasiana.com/2012/04/09/siswi-hamil-boleh-ikut-un-miris/

About siswanta

Seorang Guru SMK, berpendapat bahwa pendidikan adalah sebaik-baiknya investasi untuk masa depan sebuah bangsa

Posted on April 10, 2012, in INFO GURU. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Gimana pendapat bapak, siswa yang ikut ujian di Sel..?

    Siswanta

    Siswa yang mana ya pak, Pendidikan formal atau non Formal, dan melihat jenjangnya, SD, SMP apa SLTA. Kalau siswa pada pendidikan formal (apalagi SLTA), ya dilihat dulu tata tertib di sekolahnya. Apa bener siswanya dipenjara tidak dikembalikan kepada orangtuanya ?.

    Untuk pendidikan non formal lebih permisif untuk hal-hal yang tidak diterima pada pendidikan formal.
    Terima kasih kunjungannya pak.

SIlahkan tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: